BUNPO

Pelajaran 44
Sugimasu

sugimasu menujukan suatu perbuatan atau keadaan yang melampaui batas. Oleh karena itu biasanya dipakai pada waktu melukiskan suatu keadaaan yang tidak dikehendaki. Contoh 1.Yuube osake o nomi sugimashita (terlalu banyak minum sake semalam) Sugimasu dipakai menyusul K. kerja lainnya atau K.sifat, tapi karena tergolong dalam kata kerja group ll, maka konjugasinya adalah sugiru, suginai, sugite, dsb.contoh
2. Terebi o mi-sugiru to, me ga waruku narimasu (kalau terlalu banyak nonton
mata jadi rusak)
3. Kono kaban wa omo-sugite, motemasen. (Tas ini terlalu berat, tidak
terangkat) Cara Menghunbungkan Kata kerja Bentuk masu
kata sifat i -i } + sugimasu
kata sifat na

Pelajaran 45
Soreni dan Sorede

Soreni dipakai untuk menambah 1 lagi hal atau keadaan kepada yang sudah ada.
(13) Kono hana wa iro ga kirei desu. Soreni nioi mo ii desu.
= Bunga ini warnanya indah. Tambahan lagi baunya juga enak.

Sorede artinya mirip dengan desukara atau dakara (oleh karena itu), dan dipakai pada waktu mengakui kalimat sebelumnya sebagai penyebab/alasan dari kalimat yang akan diucapkan kemudian.

(14) A: Kono resutoran wa ryouri mo oishi shi, nedan mo yasui desu
= Restoran ini makanannya enak, dan harganya juga murah.
B: Sorede hito ga ooi’n desu ne = Karena itu ada banyak orang ya.

Pelajaran 46
Zuibun
Zuibun menunjukkan tingkat yang sangat, seperti misalnya 1) luar biasa, 2) banyak, lama dan sebagainya, dan seringkali disertai dengan perasaan heran atau di luar dugaan si pembicara.
1) luar biasa
(15) Kyou wa zuibun hito ga ooi desu ne = Hari ini orang luarbiasa banyaknya ya.
Zuibun yang berarti luar biasa dapat diganti dengan taihen atau totemo.

2) banyak
(16) Zuibun biiru o nomimashita ne = Minum banyak bir ya.

3) lama
(17) Kono dougu wa zuibun tsukatte imasu. Sorosoro atarashii no o kawanakereba narimasen
= Alat ini sudah lama dipakai. Sudah waktunya harus membeli yang baru.

Pelajaran 47
Bentuk Biasa + shi
3-1 Pada Pel. 9 sudah kita pelajari ~kara yang berfungsi mengungkapkan penyebab atau alasan. Apabila penyebab atau alasan ini ada lebih dari 2, maka dipakai ~shi.
- Nimotsu ga ooi desu = Barangnya banyak (penyebab I)
- Ame ga futte imasu = Sedang turun hujan (penyebab II)
–> takushii de kaerimasu = Pulang dengan taksi.

(8) Nimotsu ga ooi shi, ame ga futte iru shi, takushii de kaerimasu
= Karena barangnya banyak dan sedang turun hujan, maka pulang dengan taksi.

3-2 ~shi tidak hanya menyatakan deretan penyebab atau alasan, tetapi juga mengandung makna “tambahan lagi” atau “apalagi”. Apabila K. Bantu ga ataupun o diganti dengan mo maka maknanya menjadi semakin kuat.
(9) Nimotsu mo ooi shi, ame mo futte iru shi, takushii de kaerimasu
= Karena barangnya banyak dan sedang turun hujan, maka pulang dengan taksi.

3-3 Apabila induk kalimatnya sudah jelas dari kalimat sebelumnya, adakalanya kita hanya menyebutkan penyebeb/alasannya saja:
(10) A: Zuibun hito ga ooi desu ne = Orangnya banyak sekali ya.
B: Kyou wa nichiyoubi da shi, tenki mo ii shi… (dalam percakapan)
= Karena hari ini hari Minggu, lagipula cuacanya baik…

3-4 ~shi biasanya dipakai untuk menyebutkan lebih dari 2 penyebab, tetapi kadang dipakai pula untuk menyebutkan hanya satu di antaranya. Berbeda dengan pengunaan ~kara, pada penggunaan ~shi terkandung pula penyebab-penyebab yang tidak disebutkan.
(11) Kyou wa samui shi, doko mo dekakemasen
= Saya tidak kemana-mana antara lain karena dingin.

3-5 Cara menjawab kalimat tanya doushite dengan menggunakan ~shi adalah sbb:
(12) A: Doushite itsumo kono su-pa- de kaimono-suru’n desu ka
= Kenapa anda selalu belanja di toko swalayan ini?
B: Nedan mo yasui shi, soreni shinamono mo ooi desu kara
= Harganya murah, apalagi barangnya banyak.

Soreni dipakai pada waktu kita khususnya sedang ingin menyatakan “apalagi” atau “tambahan lagi”.

Pelajaran 47
4. Soreni dan Sorede

Soreni dipakai untuk menambah 1 lagi hal atau keadaan kepada yang sudah ada.
(13) Kono hana wa iro ga kirei desu. Soreni nioi mo ii desu.
= Bunga ini warnanya indah. Tambahan lagi baunya juga enak.

Sorede artinya mirip dengan desukara atau dakara (oleh karena itu), dan dipakai pada waktu mengakui kalimat sebelumnya sebagai penyebab/alasan dari kalimat yang akan diucapkan kemudian.

(14) A: Kono resutoran wa ryouri mo oishi shi, nedan mo yasui desu
= Restoran ini makanannya enak, dan harganya juga murah.
B: Sorede hito ga ooi’n desu ne = Karena itu ada banyak orang ya.

Pelajaran 47
nakanaka ・・・masen

Artinya: tidak mudah~
nakanaka yang disusul dengan bentuk negatif menunjukkan arti “tidak mudah~” atau “tidak berjalan seperti yang diharapkan”.
(24) Kotoba ga nakanaka oboeraremasen = Tidak mudah menghafal kata-kata.
(25) Takushi ga nakanaka kimasen = Taksi tidak datang-datang.

Pelajaran 47
miraremasu dan miemasu, kikemasu dan kikoemasu
K. Kerja Kesanggupan dari mimasu dan kikimasu adalah miraremasu dan kikemasu, yang berarti sama dengan miru koto ga dekimasu dan kiku koto ga dekimasu, yang menunjukkan maksud si pembicara untuk melihat atau mendengar.
Sedangkan miemasu dan kikoemasu adalah K. Kerja intransitif dan menunjukkan masuknya sesuatu obyek ke dalam pandangan, atau masuknya bunyi/suara ke dalam pendengaran tanpa dimaksud oleh pembicara. Pada kalimat yang menggunakan miemasu atau kikoemasu, pokok kalimat adalah obyeknya yang ditunjukkan dengan K. Bantu ga.
(26) Kono eiga wa Shinjuku de miraremasu = Film ini bisa dilihat di Shinjuku.
(27) Shinkansen kara Fujisan ga miemashita = Dari Shinkansen kelihatan Gunung Fuji.
(28) Denwa de tenki yohou ga kikemasu = Dengan telepon (kita) bisa mendengar prakiraan cuaca.
(29) Rajio no oto ga kikoemasu = Bunyi radio kedengaran.

Pelajaran 47
Menghubungkan ~n desu
Formula:
- K. Kerja bentuk biasa + n desu
- K. Sifat i bentuk biasa + n desu
- K. Sifat na bentuk biasa + n desu
- K. Benda (~da –> ~na) + n desu

~n desu bisa dihubungkan baik dengan K. Kerja, K. Sifat i, K. Sifat na maupun K. Benda. Dengan K. Kerja dan K. Sifat i dapat dihubungkan begitu saja dengan bentuk biasanya.
Tetapi bila dengan bentuk positif Waktu Sekarang dari Sifat na maupun K. Benda maka akan menjadi ~na’n desu, jadi berhati-hatilah.
Bentuk biasa dari ~n desu adalah ~n da, tapi ini biasa dipakai oleh orang laki-laki.

2. Arti dan Pemakaian ~n desu
2-1. ~n desu
1). ~ n desu dipakai pada waktu menerangkan sebab ucapan atau perbuatan kita, atau ucapan lawan bicara.
Contohnya:
- Watashi wa kinou kaisha o yasumimashita. (Pernyataan pembicara).
Netsu ga atta’n desu.
= Kemarin saya tidak masuk kantor. Panas badan saya naik.

Di sini, kalimat yang belakangan menerangkan sebab mengapa si pembicara tidak masuk kantor. Jadi ~n desu menjadi keterangan alasan bagi kalimat sebelumnya.

- A: Ashita pa-tii ni ikimasu ka. (Ucapan lawan bicara)
= Besok anda pergi ke pesta?
B: Iie, ikimasen. Tsugou ga warui’n desu.
= Tidak, saya tidak pergi. Ada urusan.

Di sini, penyebab tidak pergi ke pesta ditambahkan kemudian.

2). Selain untuk menerangkan sebab, ~n desu juga dipakai waktu menerangkan keadaan pada saat itu.
- Ima kara dekakeru’n desu.
= Saya berangkat sekarang.

2-2. ~n desu ka
1) Bentuk kalimat tanya ~n desu ka dipakai pada waktu memintakan keterangan kepada yang diajak bicara tentang apa yang dilihat atau didengarnya.
Misalnya:
- Nihongo ga jyouzu desu ne. Donokurai benkyoushita’n desu ka?
= Anda pandai bahasa Jepang ya. Sudah berpa lama belajar?

Kalimat ini pada hakekatnya sama artinya dengan Donokurai benkyoushimashita ka, tetapi pada benkyoushimashita ka si pembicara tidak menyertakan perasaannya, melainkan menanyakan jangka waktu belajar itu saja.
Sedangkan benkyoushita’n desu ka menunjukkan rasa ingin tahu yang kuat si pembicara setelah mendengar bahasa Jepang yang fasih dari lawan bicaranya.

2) A: (Melihat bahwa lawan bicaranya tidak punya nafsu makan)
Kyou wa amari tabemasen ne. Dou shita’n desu ka?
= Hari ini (anda) tidak makan. Ada apa?
B: Onaka ga itai’n desu.
= Saya sakit perut.

Pada kalimat yang menanyakan sebab, doushite maupun kalimat yang memintakan keterangan tentang keadaan dou shita sering dipakai ~n desu.
Pola kalimat ~n desu ka seringkali mengandung rasa heran (terkejut) atau ragu-ragu si pembicara. Berhati-hatilah memakai bentuk ini karena pemakaian yang salah dapat menimbulkan rasa tidak senang pada yang diajak bicara.

2-3. ~ n desu ga
Contohnya:
- Sentakuki ga ugokanai’n desu ga, chotto mite kudasaimasen ka.
= Mesin cucinya tidak jalan, dapatkah anda memeriksa sebentar?

- Tokei o kaitai’n desu ga, doko de kattara ii desu ka.
= Saya ingin membeli jam. Di mana sebaiknya membelinya?

- Anou, 0-furo no tsukai-kata ga yoku wakaranai’n desu ga…
= Anu, saya tidak begitu mengerti cara memakai ofuro.

~n desu ga berfungsi untuk menarik perhatian orang yang diajak bicara pada topik yang sedang dibicarakan. Ga dalam kalimat ini dipakai untuk menghubungkan 2 kalimat secara longgar, dan menunjukkan keraguan atau perasaan.

2-4. Kasus dimana ~n desu tidak bisa dipakai
Pada waktu hanya akan mengatakan suatu kenyataan saja, maka ~n desu tidak bisa dipakai.
Contohnya:
- Watashi wa Indonesia no Eko desu. ( X ・・・ Eko nan’n desu)
= Saya Eko dari Indonesia.

- Ima 9ji 15fun desu. (X ・・・ 15 fun nan’n desu)
= Sekarang jam 9 lewat 15 menit.

Contoh berikut hanya mengatakan suatu kenyataan di masa lampau.
- Kinou wa totemo isogashikatta desu.
= Kemarin saya sangat sibuk.

Sedangkan contoh berikut ini menggunakan ~n desu yang mengandung maksud yang tidak disebutnya, misal “jadi waktu itu saya tidak ikut ke pesta” atau “karena itu saya sekarang lelah sekali”, dsb.
- Kinou wa totemo isogashikatta’n desu.
= Kemarin saya sangat sibuk.

Tinggalkan Balasan